Rabu, 10 April 2013

Terima Kasih Hujan



Aku seakan berjalan mundur. Melangkahkan kakiku perlahan melalui setiap lorong waktu yang tergambar di pikiranku menuju ke satu titik, momen ketika kamu bersamaku. Apa yang terjadi? Kenapa aku berjalan mundur lagi sedang aku sekarang terus berusaha merangkak maju? Ya sepertinya aku mengerti. Hujan. Iya, semua karena hujan. Hujan yang sekarang sedang menyapaku lembut di pagi yang selalu ingin ku hindari karena harus memaksaku sadar kalau kini tak ada lagi dirimu untukku. Dirimu dengan senyum indah itu, dengan tawa riang itu, dengan cerita atau kadang keluhan-keluhan tentang teman-temanmu atau harimu yang kamu lewati tanpaku, dan dirimu yang hanya sekedar ingin menghabiskan sarapanmu dan kemudian memintaku mengambilkan segelas air untukmu. Hmm..pagi yang sungguh indah dan kini seakan sedang terlukis kembali di depan mataku, momen itu, perlahan. Dan terima kasih untukmu malam yang telah menjadi mesin waktuku untuk sejenak kembali ke waktu itu, ketika pelukan di bawah hujan itu masih hanya untukku.




Hujan selalu saja punya cara untuk memaksaku bertekuk lutut dihadapannya dan melemparku kembali ke belakang, ke momen yang kucoba untuk tidak mengingatnya tapi tak ingin kulupakan.
Ketika kamu masih biasa saja denganku dan masih setia dengan jaket kuningmu, hujan jadi teman kita menuju ke radio untuk mengisi jadwal siaran kita berdua.
Ketika kamu akhirnya bisa menyukaiku sehingga besoknya kamu memberikanku dua lembar cerita sederhana namun berharga buatku, hujanlah yang menjadi perantara Tuhan tuk mengetuk hatimu.
Ketika penantianku akhirnya terjawab dan kamu membuka pintu hatimu dan mengizinkanku masuk ke dalamnya meski di dalam telah ada seseorang yang menempatinya jauh sebelum kamu mengenalku, hujan telah lebih dulu menyapaku di sore dan ketika aku sedang mengantar si Qori pulang,  seakan hujan tau jika akan ada momen indah yang akan terjadi setelahnya dan dia ingin mencoba menjadi yang pertama memberiku selamat.
Ketika kita berdua harus datang lagi untuk sebuah kegiatan di tempat sebelum awal indah itu bisa terjadi di sebuah pesantren sederhana, hujan juga menyempatkan waktunya untuk menyapa kita berdua di sore sebelum malam kegiatan amal kita di pesantren itu. Bahkan setelah kegiatan itu hingga aku mengantarmu pulang, hujan coba bercanda dengan kita. ^_^
 Ketika kita ingin mengisi perut kita yang sedang kelaparan dengan dua piring batagor, hujan coba menghalangi, tapi kita tetap melawan hujan. Yang akhirnya kusadari jika ternyata hujan begitu karena hujan seakan ingin bilang ke kita kalo warung batagornya sudah tutup..hehe
Ketika kita kumpul dengan teman-temanmu yang ku anggap teman-temanku juga di tempatnya Om di Pantai Penghibur untuk sekedar berbagi kisah kita atau sekedar bercanda sejenak melupakan kesibukan perkuliahan, hujan juga pernah ambil bagian dan ikut ngumpul dengan kita. Bahkan sempat harus membuat Leo mengeluarkan halilintarnya..hehe
Ketika kita berdua sedang melintasi jalan di tengah malam ditemani Velove menuju Tombiano, hujan juga tak mau ketinggalan menemani kita. Dan hujan juga mengarahkan kedua lenganmu untuk memeluk tubuhku erat. Yang tak pernah kuduga jika itu akan jadi pelukan terakhir darimu yang masih hanya aku seorang untukmu.
Senyum tipis pun muncul di wajahku. Tidak menyangka sudah terlalu banyak momen ketika aku bersamamu yang selalu saja ada hujan hadir disitu. Dan aku sengaja hanya menggambarkan sebagian kecil saja dari momen-momen itu ke dalam bentuk susunan huruf di tulisanku kali ini. Karena sebagian besar dari momen-momen itu adalah momen-momen yang ingin kunikmati sendiri.


 Hujan selalu ada di momen indah kita berdua. Ya, kita berdua. Semoga saja kamu juga menganggapnya momen yang telah terjadi itu adalah momen yang indah. Dia selalu saja menyempatkan hadir buat kita. Selalu tak ingin ketinggalan menyaksikan kita. Tapi, hujan seperti tau jika akan ada momen yang akan mengecewakannya karena momen indah yang selalu dia sempatkan untuk dia saksikan atau bahkan ikut terlibat di dalam momen indah itu, harus jadi seperti yang dia tidak pernah duga. Hujan tidak hadir ketika kamu akhirnya mengaku dan mengatakan jika kam………, ah sudahlah. Tak perlu aku ceritakan lagi yang itu. Cukup momen indah saja yang ingin ku ingat darimu.
Terima kasih hujan.
Terima kasih telah jadi bagian dari momen-momen indahku ketika bersamanya.
Terima kasih sudah sangat mengerti denganku dengan selalu mengingatkanku ke momen-momen indah itu kala kau turun dan membasahi bumi sehingga aku tidak akan pernah bisa lupa akan momen-momen itu, seperti yang aku inginkan.
Terima kasih karena hari ini kau seharian hadir dan membuatku jadi menulis ini.
Dan terima kasih telah menyamarkan tetesan di sudut mataku yang tanpa sadar jatuh ketika aku menulis ini.

4 komentar:

  1. Aku selalu bahagia saat hujan turun, karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri *nyanyik utopia* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Lirik lagunya cocok banget. Tapi, gue kurang suka lagunya..hehe

      Hapus
  2. mhm.. hujan memang terkadang menjadikan kita melankolis.. tapi sekaligus 'pintu' yang tepat untuk mengunjungi masa lalu.. :)

    P.S
    Sediain tisyu lain kali kalo hujan mas :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...