Selasa, 12 Mei 2026

Cerita di Balik "Saat Kau Tak di Sisiku"

Sebuah Lagu yang Lahir dari 'Pura-Pura', Namun Berakhir Begitu Nyata


Lucunya, lagu ini lahir saat saya sedang tidak merindukan siapa pun. Saya masih jomblo waktu itu, tidak sedang LDR, dan hidup tenang-tenang saja. Tapi, semuanya berubah saat saya melihat seorang teman yang begitu tersiksa oleh jarak dengan pasangannya.

Saya mencoba diam, mengambil gitar, lalu mulai "berandai-andai". Bagaimana jika saya ada di posisi itu? Bagaimana rasanya kegelisahan dan rindu yang datang bersamaan dengan rasa khawatir berlebih saat kita tidak bisa melihat langsung orang yang kita sayang? Apalagi waktu itu teknologi video call belum ada. Buku kecil, pulpen, dan hape Nokia 3110 classic untuk merekam jadi saksi bagaimana emosi yang saya pinjam itu pelan-pelan berubah menjadi lirik yang utuh.

Setelah lagu ini selesai diproduksi di studio, saya baru menyadari satu hal. Ternyata, lagu ini bukan cuma milik mereka yang sedang LDR dengan pacar.

Lagu ini milik seorang anak yang rindu orang tuanya, milik sahabat yang terpisah benua, atau siapa pun yang hatinya sedang merasa 'kosong' karena orang tersayangnya tidak berada di sisi. Jarak ternyata bukan cuma soal kilometer, tapi soal rasa khawatir yang muncul saat kita tidak bisa saling menjaga secara langsung.

Saat kau tak di sisiku
Ku selalu memikirkanmu
Bila kau jauh dariku
Ku tak berhenti bertanya-tanya
Adakah dirimu sedang tertawa?
Ataukah dirimu sedang menangis dan bersedih?
Saat kau tak di sisiku
Ku tak berhenti bertanya-tanya
Bisakah kau rasakan?
Saat ku sedang rindu saat ku sedang memikirkanmu
Di sini, aku sedang gelisah karena aku mengkhawatirkanmu
Ku di sini kau di sana
Apakah juga memikirkanku?

Mungkin kamu sedang merasakan hal yang sama. Jika ingin jadi yang pertama mendengar, silahkan isi data kamu di bawah ini. Saya akan kirimkan link rilisnya langsung ke kamu.


Selasa, 07 Januari 2025

Gunung atau Pantai

Kukira selama ini harus memilih antara gunung atau pantai. Kalau tidak suka ke gunung, berarti sukanya ke pantai. Sesederhana itu. Mengira pilihan hanya A atau B. Lupa kalau abjad itu bisa sampe Z. Itu saja baru abjad dalam Bahasa Indonesia. Belum kalau standarnya menggunakan abjad bahasa lain. Bisa lebih banyak lagi. Kalau pilihan itu adalah huruf dalam abjad, berarti saya punya banyak pilihan yang bisa saya ambil. Bukan hanya A atau B.

Kukira selama ini harus memilih antara gunung atau pantai, ternyata tidak. Mungkin, bukan soal memilih salah satu. Tapi, bagaimana bisa menikmati keduanya. Karena masing-masing punya indahnya sendiri-sendiri. Mungkin, bukan soal memilih ini atau itu. Tapi, menghargai ini dan itu.

#30hbc2507

@30haribercerita

Fase

Dalam beberapa hari ke depan, Insya Allah usianya akan berganti dari disebut bulan menjadi tahun. Banyak hal yang sudah bisa ia lakukan. Fase di mana ia sedang aktif-aktifnya, bikin ia sering disebut nakal..hehe.


Ah, rasanya seperti baru kemarin ia membuatku belajar bagaimana memakaikan popok newborn, cara menggendong, dan banyak hal lainnya.

Sehat selalu ya, Nak. Ayah sangat menikmati fase ini. Dan, pasti ibumu juga seperti itu. Fase yang Insya Allah ketika kamu dewasa nanti, pasti akan jadi momen yang sangat kami rindukan.

Entah kapan bisanya

Jadi rencananya:

- Selesaikan postingan setiap hari di 30 hari bercerita, lalu
- mulai liat cerita-cerita yang di-repost oleh @30haribercerita, membaca cerita itu langsung dari akun penulisnya satu per satu. Kalau suka ceritanya, like. Kalau merasa perlu kasi komentar, kasi komentar. Dan, kalau sampai suka sekali dengan cerita-ceritnya, follow akunnya. Baru kemudian kasi like di repost-an nya di akun 30hbc.
- Waktu lagi baca-baca cerita, mulai bermunculan notif like di cerita yang tadi sudah kuposting. Yang kasi like itu kemudian jadi sasaranku untuk kukunjungi akunnya. Kalau ia posting cerita 30hbc, aku akan membaca cerita-ceritanya. Lalu, kembali ke poin sebelumnya di atas.

Mau melakukan ini dari awal ikut 30hbc. Tapi, sampai sekarang belum bisa terealisasi. Ternyata merealisasikannya tidak semudah yang dibayangkan. Dan, kalau dipikir-pikir pola seperti ini mengingatkan jaman blog. Saling mengunjungi blog, kemudian saling tinggalkan komentar di blog yang dikunjungi.

#30hbc2505
@30haribercerita

Dibikin 10 tahun lalu

Sepertinya begitu atau mungkin lebih. Tapi, yang pasti lagu ini pertama kali kita bawakan waktu ikut lomba band antar sekolah. Seingatku, kita jadi satu-satunya band yang bawakan lagu ciptaan sendiri.


Minim ilmu rekaman, minim ilmu musik, tapi kita tetap lakukan proses rekaman lagu itu. Bukan di studio musik, bahkan saat itu kita tidak pernah lihat langsung wujud studio rekaman itu seperti apa, kita merekam lagu itu di laptop kantor Bapaknya gitaris kita. Sekitar sepuluh tahun lalu, telinga kita mengamini kalau hasil rekamannya bagus. Makanya, tidak ragu memperdengarkan lagu itu ke teman-teman sekolah. Dan, sampai memasukkannya ke radio-radio.

10 tahun kemudian file lagu itu kudengarkan lagi. Tidak ada bagus bagusnya hasil rekamannya! Di beberapa part ada suara yang fales..haha.

Sekarang kita lagi coba merapikan kembali hasil rekamannya. Entah akan jadi apa nantinya lagu itu, biarkan dia dengan jalannya sendiri. Karya memang perlu dirayakan. Dan, ini salah satu cara kita merayakan karya yang sudah dilahirkan.

#30hbc25sepuluh
#30hbc2504
@30haribercerita