Cek Harga & Stock Oli TMO vs Kompetitor
Cukup 2 menit. Isi sesuai kondisi toko hari ini — data ini bantu saya siapkan laporan ke kantor pusat.
Terima kasih!
Data toko sudah tersimpan. Saya akan pakai ini untuk rekap laporan ke kantor pusat.
Cukup 2 menit. Isi sesuai kondisi toko hari ini — data ini bantu saya siapkan laporan ke kantor pusat.
Data toko sudah tersimpan. Saya akan pakai ini untuk rekap laporan ke kantor pusat.
Sebuah Lagu yang Lahir dari 'Pura-Pura', Namun Berakhir Begitu Nyata
Lucunya, lagu ini lahir saat saya sedang tidak merindukan siapa pun. Saya masih jomblo waktu itu, tidak sedang LDR, dan hidup tenang-tenang saja. Tapi, semuanya berubah saat saya melihat seorang teman yang begitu tersiksa oleh jarak dengan pasangannya.
Saya mencoba diam, mengambil gitar, lalu mulai "berandai-andai". Bagaimana jika saya ada di posisi itu? Bagaimana rasanya kegelisahan dan rindu yang datang bersamaan dengan rasa khawatir berlebih saat kita tidak bisa melihat langsung orang yang kita sayang? Apalagi waktu itu teknologi video call belum ada. Buku kecil, pulpen, dan hape Nokia 3110 classic untuk merekam jadi saksi bagaimana emosi yang saya pinjam itu pelan-pelan berubah menjadi lirik yang utuh.
Setelah lagu ini selesai diproduksi di studio, saya baru menyadari satu hal. Ternyata, lagu ini bukan cuma milik mereka yang sedang LDR dengan pacar.
Lagu ini milik seorang anak yang rindu orang tuanya, milik sahabat yang terpisah benua, atau siapa pun yang hatinya sedang merasa 'kosong' karena orang tersayangnya tidak berada di sisi. Jarak ternyata bukan cuma soal kilometer, tapi soal rasa khawatir yang muncul saat kita tidak bisa saling menjaga secara langsung.
Jadilah yang pertama mendengar lagu ini.
KLIK "PLAY" DI BAWAH INI.
Kukira selama ini harus memilih antara gunung atau pantai. Kalau tidak suka ke gunung, berarti sukanya ke pantai. Sesederhana itu. Mengira pilihan hanya A atau B. Lupa kalau abjad itu bisa sampe Z. Itu saja baru abjad dalam Bahasa Indonesia. Belum kalau standarnya menggunakan abjad bahasa lain. Bisa lebih banyak lagi. Kalau pilihan itu adalah huruf dalam abjad, berarti saya punya banyak pilihan yang bisa saya ambil. Bukan hanya A atau B.
Kukira selama ini harus memilih antara gunung atau pantai, ternyata tidak. Mungkin, bukan soal memilih salah satu. Tapi, bagaimana bisa menikmati keduanya. Karena masing-masing punya indahnya sendiri-sendiri. Mungkin, bukan soal memilih ini atau itu. Tapi, menghargai ini dan itu.
#30hbc2507
@30haribercerita
Dalam beberapa hari ke depan, Insya Allah usianya akan berganti dari disebut bulan menjadi tahun. Banyak hal yang sudah bisa ia lakukan. Fase di mana ia sedang aktif-aktifnya, bikin ia sering disebut nakal..hehe.
Jadi rencananya:
- Selesaikan postingan setiap hari di 30 hari bercerita, laluSepertinya begitu atau mungkin lebih. Tapi, yang pasti lagu ini pertama kali kita bawakan waktu ikut lomba band antar sekolah. Seingatku, kita jadi satu-satunya band yang bawakan lagu ciptaan sendiri.
Malam itu suasananya hening. Raut cemas tampak di wajah mama. Nenek yang sudah lama terbaring sakit napasnya mulai tersengal-sengal. Anak-anak termasuk aku saat itu diminta mama keluar dari kamar nenek.
Iya, berat ternyata mengerjakan semuanya sesuai yang sudah direncanakan. Dan, bodohnya semuanya tidak dicatat, hanya disimpan di dalam pikiran. Terus berharap bisa menyelesaikan semuanya satu-satu. Tapi, pas memulai, hadeh beraat. Ada-ada saja hal yang mendistract, atau kayanya saya yang memang mau kedistract. Dan, yang jadi musuh terbesar adalah “rebahan sebentar ah baru mulai selesaikan satu-satu”. Sebentar yang bangun-bangun sudah adzan subuh.
Apa kabar, Nek?
Nenek di sana bagaimana? Sudah tidak kesepian pasti kan? Kan sudah banyak temannya di sana.
Maaf Nek, cucumu ini bodoh sekali waktu kecil. Pas dewasa baru bisa tahu betapa sepinya waktu kita semua pergi mengungsi tapi nenek tetap di rumah saja sendirian. Pasti sepi sekali waktu itu ya Nek. Apalagi lorong di rumah, orang-orangnya pergi juga waktu itu.
Maaf Nek, cucumu ini bodoh sekali waktu kecil. Waktu itu, waktu kita masih di Makassar, mengungsi dan menumpang di rumahnya Oma, nenek jualan nasi kuning nenek dan sudah mulai dikenal. Tapi cucumu ini di pikirannya hanya ingin main terus saja. Akhirnya, nenek menuruti mau cucumu ini lalu pindah ke lingkungan yang banyak anak-anak seumuranku. Iya, sih saya senang karena banyak teman bermain. Tapi, di sana jualan nasi kuning nenek tidak seperti tempat sebelumnya. Lebih banyak sering tidak lakunya. Saat dewasa baru sadar kalau itu bisa saja jadi momen nenek punya warung sendiri.
Maaf Nek, cucumu ini bodoh sekali waktu kecil. Aku selalu menganggap nenek itu kuat. Durian banyak pun nenek makan tidak masalah. Tapi, justru itu jadi awal momen nenek tidak seperti nenek biasanya. Nenek hilang kesadaran dan pelan-pelan penyakit itu mulai muncul, pelan-pelan mulai merebutmu dari kita.
Maaf Nek, cucumu ini terlalu egois waktu kecil. Hanya pikirkan diri sendiri, mengganggapmu beban. Lebih banyak bercerita denganmu. Seperti yang biasa nenek lakukan waktu aku kecil dulu.
Maaf Nek, cucumu ini terlambat bisa punya uang sendiri. Jadi tidak bisa bikin nenek dapat perawatan yang maksimal.
Maaf, Nek.
Aku rindu Nek dikasi jergen merah kecil itu yang tutup merahnya sering terlepas karena sudah longgar. Jergen yang sering aku bawa kalau disuruh beli minyak tanah.
Aku rindu Nek dikasi list belanjaan dari nenek. Saya jalan kaki ke pasar, sambil ingat ingat pesanmu, kembaliannya nanti diambil saja. Terus, kembaliannya kupake beli buku arti mimpi, kupikir itu buku arti mimpi yang mengartikan makna mimpi, tapi ternyata itu mimpi untuk liat arti yang dipakai pasang shio.
Aku rindu, Nek. Aku rindu es kue buatanmu. Aku rindu supermi yang dikasi jeruk nipis buatanmu. Menu andalan yang sering kau buatkan kalau cucumu ini sedang demam.
Nek, bahkan saat kau masih ada, kau sudah berjanji akan sering awasi aku kalau nanti sudah tidak di dunia ini.
Nek, sekarang aku sudah punya Nahla. Dia cantik, Nek. kalau nenek masih ada, pasti nenek so gigit lagi anakku itu. Nek, di rumah so rame, anaknya Rati so ada 3 Nek.
Nek, apa kabar di sana?
Cepat juga adaptasinya, kepala aman hari ini. Tapi, tetap saja hari ini belum bisa ke Pasar Ramadan. Wajib ya ke sana? Jawabannya ya wajib tidak wajib. Wajib karena adanya hanya di bulan Ramadan. Jadi, rugi saja kalau tidak ke sana walau hanya sekali. Tidak wajib, karena kalaupun tidak pergi tidak akan mengakibatkan apa-apa juga..hehe.
Saya kurang nyaman berada di keramaian. Tapi, sepertinya Pasar Ramadan bisa jadi pengecualian. Paling sering kalau datang bukan karena mau beli sesuatu. Paling kalau bukan datang karena ada janji sama teman mau buka puasa bersama, yaa datangnya hanya karena ingin sekadar habiskan waktu saja. Keliling-keliling sambil menunggu waktu berbuka tiba.
Sampai hari kedua, malamnya masih hujan. Jadi ingat, katanya doa pas hujan itu mustajab. Hujan di hari biasa saja sudah mustajab, apalagi hujan di hari di bulan Ramadan seperti ini ya.
Tulisan hari kedua ini singkat. Tapi, perjuangan untuk tidak tunduk sama magernya itu yang tidak singkat. Dengan kondisi abis hujan yang bikin suasananya dingin-dingin asik, tingkat kemageran pun meningkat. Makanya, butuh waktu yang cukup lama baru saya berhasil 'melawan'.
Tivi di depan saya sedang memutar Crayon Shincan The Movie. Karena sedang tidak ada acara yang bagus menurut saya di channel lokal HD yang ada di Indi*home, saya iseng coba buka aplikasi lainnya yang selama ini tidak pernah saya sentuh. Saya penasaran dengan aplikasi Catchplay. Setelah coba buka, astaga saya baru tahu ternyata paket internet saya sudah sekalian dengan paket bisa nonton gratis di aplikasi ini. Dan, Sinchan The Movie ini terputar ya dari aplikasi ini sambil saya mengetik postingan ini.
Niat ingin menulis setiap hari selama Ramadan ini sudah lama ada. Tapi, baru kali ini benar-benar melakukannya. Selama ini selalu saja kalah sama alasan yang bisa dibilang sengaja saya ada-adakan..hehe. Kebiasan menunda, sukanya nanti dulu, dan ah nanti besok saja sekalian. Yaa, itu semua alasan yang bikin niat ini hanya jadi sebatas niat.
Sebelumnya mau bilang Alhamdulillah karena masih ketemu bulan Ramadan. Masih ada kesempatan untuk perbaiki segala kekurangan di tahun lalu. Anggap saja menulis ini adalah salah satunya. Di hari pertama puasa ternyata saya harus merasakan lagi hal yang sama seperti hari pertama puasa tahun lalu. Sakit kepala. Iya, sakit kepala. Tapi, syukurnya tahun ini tingkat sakit kepalanya tidak seperti tahun lalu. Tahun ini, sakit kepalanya masih bisalah untuk saya atasi. Kalau tahun lalu, bergerak sedikit saja kepala sudah kayak mau pecah.
Menurut ke sok tahuan saya, bisa jadi ini karena efek tidak ngopi pagi. Di hari-hari biasanya, setiap hari minimal di jam setengah 10 pagi pasti ngopi. Dan, karena lagi menjalankan ibadah puasa, otomatis tidak bisa ngopi pagi, yang Insya Allah ini akan selama sebulan lamanya. Mau tidak mau ngopinya harus pindah jam tayang dulu jadi setelah buka puasa.
Semoga besok sudah terbiasa. Jadi, tidak perlu lagi ada acara sakit kepala. Dan, niat ingin ke Pasar Ramadan bisa terealisasi. Aamiin!
"Aji! Kopi satu!", kemudian saya duduk di tempat biasanya di warung kopi depan kantor. Sambil tunggu kopi dibikin, buka FB di hape, eh iya, hari ini ulang tahunnya mama. Saya langsung menghubungi dua adik saya, minta tolong carikan kue. Di keluarga kami, merayakan ulang tahun bukan sesuatu yang rutin kami lakukan. Tapi, kali ini entah kenapa saya merasa ingin ada suasana yang berbeda. Walaupun yang membuatnya beda itu hanya sebuah kue ulang tahun tanpa ada acara khususnya. Kue ulang tahun yang dibeli dadakannya siap jam satu siang kata adik saya.
Saya dan dua adik saya memberikan kue ini ke mama. Sayangnya ponakan saya yang perempuan sedang tidur siang. Kalau dia belum tidur, dia pasti yang jadi paling heboh. Anaknya suka sekali dengan kue ulang tahun soalnya..hehe. Pulang makan siang di rumah kali ini terasa beda. Ada kue ulang tahun mama dan ada senyum manis dari mama dan papa. Selamat ulang tahun, ma. Sehat selalu.
Saya tinggal di kota yang kalau kita jalan-jalan keliling kotanya tidak butuh waktu sejam. Dan, kemungkinan besar kita akan ketemu dengan orang yang sama sampai lebih dari tiga kali di hari yang sama. Pertokoan di sini ada. Tapi, saya sering kesulitan kalau mau cari barang yang saya inginkan. Contohnya, sepatu. Kadang sudah ketemu sama satu brand yang saya cari. Tapi, seringnya ragu apakah barangnya asli atau tidak. Pernah punya pengalaman dapatnya barangnya palsu soalnya. Yaa bisa dimaklumi lah. Di sini masih sangat kurang toko yang menjual khusus satu brand.
Kalau ditanya, saya lebih suka belanja itu langsung datang ke tokonya. Interaksi secara langsung. Tapi, dengan kondisi seperti itu membuat saya mau tidak mau lebih sering belanja online. Salah satu Toko Online yang saya percaya adalah Zalora. Entah sudah berapa kali saya belanja di situ. Seringnya kalau cari jam tangan dan sepatu pasti larinya ke Zalora. Karena dijamin barangnya asli. Jadi tidak khawatir. Pengirimannya juga selalu tepat waktu. Ada gratis ongkirnya. Dan, untuk beberapa produk ada fasilitas pengembalian barangnya kalau ternyata ukurannya tidak sesuai. Puaslah selama saya berbelanja di sini.
Ayoklah kalau mau rasakan pengalaman yang sama. Klik ZALORA