Senin, 03 Maret 2014

Di antara Ulang Tahun Kota dan Gusi yang Bengkak - [CMM 1 Maret 2014]

Malam ini sama seperti malam-malam yang lain. Langitnya berwarna hitam gelap, sedikit berbintang, ada suara percakapan di lantai bawah dari sebuah sinetron yang ditonton mama, dan sesekali terdengar meongan (eh bener gak sih kata ini ada) dari Molly, kucing saya dan anak-anaknya. Malam ini adalah malam Minggu. Dan kali ini saya tidak ingin melewatkannya lagi tanpa mengabadikannya menjadi sebuah postingan di blog saya dengan label Cerita Malam Minggu seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya.

Ini adalah malam minggu pertama di bulan Maret. Bulan yang sekarang tidak lagi spesial seperti di dua tahun yang lalu. Dan sepertinya kebiasaan menunda saya mulai menyapa saya lagi. Mulai dari video klip Sempurna-lagu saya yang sampai malam ini belum saya lanjutkan lagi, usaha kripik tempe yang belum saya kerjakan lagi, sampai blog saya yang hanya memiliki satu postingan di bulan Februari. *hembuskan napas pelan

Syukurlah, hasrat untuk segera meredam 'menunda' saya itu muncul. Jika saya tidak segera meredamnya, bisa berapa momen yang akan saya lewatkan? Rasanya sudah cukup momen ketika kelima anak Molly lahir, matinya Bubu salah satu anak Molly yang kehabisan napas karena terjepit tubuh ibunya, saya yang ternyata masih disayang oleh Allah SWT karena ketika terpental ke tengah jalan tidak sempat ditabrak oleh Avanza yang saat itu (syukurnya) hanya melaju pelan, dan datangnya 'temen baru' saya yang saya namakan BeHa-motor Beat berwarna hitam yang karena 'menunda' itu jadi sengaja tidak  menyempatkan mengabadikannya menjadi postingan-postingan. Andai saja tidak menunda, pasti mereka sudah terpampang manis menghiasi daftar postingan saya di bulan Februari.

Malam minggu ini tidak akan saya lewatkan tanpa menjadikannya sebuah postingan! Walaupun tidak ada yang spesial dan menarik menurut saya di malam minggu saya ini. -_-

Hari ini, Sabtu, 1 Maret 2013 adalah hari ulang tahun ke 119 kota Poso. Sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah yang sedang bersemangat untuk membangun. Rumah saya berada tidak jauh dari lapangan Sintuwu Maroso yang juga disebut alun-alun Kota Poso. Dan sudah dari tadi sore, saya bisa mendengar dengan jelas suara berisik dari alat-alat band yang sedang dimainkan di panggung yang berada di alun-alun kota Poso. Sepertinya itu adalah bentuk perayaan dari ulang tahun kota ini. Dan malam ini bisa jadi akan ada keramaian di alun-alun.

Malam minggu datang ketika matahari sudah merasa cukup tampil di depan panggung. Berganti posisi menjadi pemeran pembantu menyokong penampilan bulan yang mendapat giliran menjadi pemain utama. Malam ini cerah. Sesuatu yang biasanya jadi sesuatu yang menjengkelkan di malam-malam sebelumnya bagi yang belum berpacar. Tapi, tidak untuk malam ini. Malam minggu yang cerah ini jadi sebuah hadiah bagi semua orang yang ingin keluar dan haus hiburan.

Namun, sepertinya saya tidak cukup haus. Saya tidak terlalu berkeinginan untuk keluar malam ini. Di malam sebelumnya, teman saya berencana akan datang malam ini. Dan jika benar dia datang, saya akan beneran jadi keluar, dan pasti acara musik di alun-alun kota itu akan jadi tujuan kami. Tapi, kalau seandainya dia tidak jadi datang, itu tidak jadi masalah buat saya.

Sambil menunggu teman saya yang katanya akan datang, saya menyibukkan diri dengan mencoba BBM yang akhirnya bisa terinstal di hape milik saya. Sesekali saya tertawa melihat balasan chat dari beberapa teman saya di BBM. Seakan tidak puas menyibukkan diri dengan BBM, saya kemudian menelpon seorang teman yang juga saya anggap sudah seperti kakak sendiri. Kami berbicara soal proses meraih mimpi yang tidak akan pernah bisa diterima oleh manusia-manusia yang terlalu mengedepankan logikanya daripada imajinasi.

Setelah mengakhiri pembicaraan, saya baru sadar jika jam di hape saya sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dan bisa dipastikan teman saya tidak jadi datang. Karena dari awal saya memang tidak terlalu berkeinginan keluar rumah, jadi tidak alasan untuk saya merasa kecewa.

Ada yang aneh di dalam mulut saya. Ternyata gusi bagian dalam sudut kanan atas saya bengkak. Lama-kelamaan saya jadi merasa seperti orang yang sedang sakit gigi. Saya kemudian meminta adik saya untuk membelikan obat. Sambil menunggu obat saya datang, saya mencoba bertanya obat yang tepat untuk sakit yang sedang saya alami ke seorang teman yang sering saya panggil Bedak. Sebuah hal bodoh yang harusnya tidak saya lakukan. Mestinya saya bertanya dulu lalu kemudian meminta adik saya membelikan obat.

Beberapa menit kemudian adik saya datang. Saya kemudian memasak Indomie goreng yang akan saya makan bersama dengan sepiring nasi. Sepertinya saya harus makan dulu sebelum meminum obat saya.

Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Saya baru saja selesai makan dan minum obat. Tapi, sakit saya terasa seperti makin menjadi. Rasanya saya harus tidur untuk meredam sakit saya itu, seperti yang biasa saya lakukan. Yang ketika bangun nanti, sakitnya sudah tidak terasa lagi.

Sakit dari gusi saya yang bengkak sudah tidak tertahankan lagi. Malam minggu ini pun harus berakhir dengan cepat. Diakhiri oleh sebuah pejaman yang semoga saja bisa menjadi obat tambahan peredam sakit saya dan juga menjadi gerbang menuju dunia mimpi yang kadang bisa terlihat penuh warna dan kadang hanya hitam gelap saja yang terlihat.

2 komentar: