Kamis, 02 Januari 2014

Selamat Datang 2014

Hari ini tanggal 31 Desember 2013. Syukurlah, hari ini saya bisa pulang cepat dari kantor. Jam 5 sore. Tidak seperti hari-hari lain yang mengharuskan saya pulang paling lambat jam 8 malam. Karena besok libur, sudah pasti saya akan pulang ke rumah orang tua saya di Poso. Iya, saya lebih suka menyebutnya begitu. Biar jadi semacam motivasi untuk saya agar nanti bisa beli rumah dengan hasil kerja saya sendiri.
 
Saya bekerja di Tambarana. Butuh waktu kurang lebih sejam perjalanan untuk bisa sampe ke Poso jika menggunakan sepeda motor. Karena saya belum memiliki sepeda motor sendiri, saya nebeng dengan temen kantor saya yang rumahnya di Sepe. Tempatnya agak sedikit jauh dari Poso, tapi perjalanan menuju rumahnya searah dengan saya.
 
Jam 06.15 sore, hmm... mungkin lebih tepatnya disebut magrib, saya sampe di rumah dengan selamat. Alhamdulillah. Seperti biasanya, saya langsung menyimpan helm di tempat biasa saya meletakkan helm "Ganz" hitam milik saya. Sebuah meja kecil di ruang tamu yang berada tepat di samping sofa lusuh berwarna merah darah babi. Kemudian, disusul melepaskan sepatu convers kawe 193 saya yang juga berwarna hitam dan meletakkannya di dekat pintu seperti biasanya yang saya lakukan. Terlihat seperti anak yang rajin, walaupun tidak tepat untuk disebut anak yang rajin. Tapi, yah begitulah sisi yang menurut saya positif yang ada pada diri saya.

Saya mulai melangkahkan kaki menuju ke sebuah ruangan tempat kami sekeluarga berkumpul. "Molly..! Molly! Ibu cantik! Di mana kamu?". Seperti ada sesuatu yang kurang kalo pertama kali masuk ke rumah tidak mencari kucing milik saya itu. Ternyata dia sedang asik tertidur di kamar Bapak. Saya kemudian menyempatkan menciumnya sebelum kemudian menuju kamar saya di lantai atas.
 
Sambil membongkar tas ransel hitam yang berisi beberapa lembar pakaian kotor, handuk, dan seperangkat alat mandi yang akan saya letakkan di tempatnya, kepala saya juga ikutan membongkar ruang pikiran saya. "Malam ini malam tahun baru. Akan bagaimana dan seperti apa saya akan melewati malam pergantian tahun ini?". Tanpa mempedulikan tubuh saya yang sebenarnya kelelahan, pikiran saya terus saja sibuk dengan dunianya.
 
Selama di perjalanan tadi, sudah cukup banyak hal yang saya rencanakan untuk saya kerjakan ketika sampe di rumah. Bikin postingan, selesaikan pesanan editing video drama junior saya di kampus, dan masih banyak hal lainnya. Tapi, semuanya jadi tertunda karena tubuh saya berhasil dibikin duduk terdiam di depan layar komputer karena keasyikan baca timeline di twitter dan status-status temen-temen di facebook. Entah kenapa kedua social media itu selalu berhasil menyihir saya.
 
Sampe akhirnya perut saya meronta dan berteriak minta jatah malamnya. Perut saya pun berhasil menaklukkan sihir kedua socmed itu. Saya langsung tersadar, dan angka 21.07 sudah tertulis rapi di sudut kanan bawah LED komputer saya.
 
Perut saya sekarang sudah kembali menjadi anak manis lagi setelah sepiring nasi yang ditemani sebuah telur mata sapi menjadi tumbal untuk teriakannya tadi.
 
Untuk beberapa saat, saya juga sadar kalo ternyata saya kegerahan. Ingin rasanya untuk segera mandi. Tapi, karena air di kamar mandi sudah seperti air yang dimasukkan ke kulkas dan jam juga sudah menunjukkan waktu yang kurang baik untuk saya mandi, jadi saya memilih untuk tidak mandi malam ini. Cuci muka pake facial wash yang dipake NOAH saja kayanya. Tapi, itu nanti saja. Sekitar sepuluh menit lagi lah. Pikirku.

Seperti betah tersihir, saya justru balik lagi masuk ke dunia maya lewat dua pintu gerbang tadi. Simbol burung biru di pintu yang satunya, dan bersimbol 'f' di pintu satunya lagi. Lagi dan lagi saya berhasil disihir oleh mereka. Rencana di sepuluh menit lagi tadi itu pun langsung terlupakan.

Pergantian tahun makin dekat, tapi anehnya mata saya tidak ingin berkompromi. Iya, biasanya di jam yang sama mata saya sudah dapat jatahnya. Tapi, untuk malam ini saja, apakah mata saya tidak bisa bersabar? Dan ternyata, jawabannya tidak. Mata saya memulai bujukannya dengan mengirim kedipan saktinya ke otak saya, sehingga otak saya dengan lembutnya meminta tubuh saya untuk dibaringkan. Di dalam posisi seperti itu, mata saya bisa dengan sangat mudah menang. Saya pun terlarut masuk ke gerbang penghubung menuju dunia mimpi lewat sebuah pejaman.

Dalam keadaaan setengah sadar, saya melihat adik saya sedang sibuk ke sana ke mari mencari Molly. Dia ingin sekali mengajaknya melihat kembang api. Entah itu memang benar terjadi atau hanya mimpi saja. Saya kesulitan untuk membedakannya. Tapi, sepertinya saya sempat melihat jam di hape saya. Menunjukkan 2014 akan segera tiba dalam waktu lima menit lagi.

Saya bisa mendengar keriuhan di luar. Suasana yang penuh dengan ledakan petasan dan ramainya langit malam ini yang dihiasi kembang api. Saya melihatnya dari jendela kamar yang sengaja dibuka oleh adik saya untuk menjadi tempat Molly nanti melihat kembang api. Tapi, semuanya saya lalui di setengah kesadaran yang saya miliki.

Iya, semua ini bukan mimpi. Ini nyata. Saya bisa melihat jelas kembang api yang indah itu walau dalam keadaan setengah sadar dan tubuh yang terasa berat seperti baru saja dihipnotis. Saya yakin 2014 telah datang menyapa di Indonesia bagian tengah. "Selamat datang 2014!", saya sempatkan mengucapkan itu sambil tersenyum tipis. Entah ucapan itu untuk siapa. Mungkin untuk hujan rintik yang juga tidak ingin ketinggalan meramaikan malam tahun baru ini. Lalu kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan malam ini di dalam mimpi. Seperti Molly yang juga sedang asik berpetualang di mimpinya, berhasil membuat kecewa adik saya karena gagal mengajaknya melihat indahnya kembang api di balik jendela kamar saya.

Picture taken from evywers.blogspot.com

4 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...